Aliah Sakira, Gadis Sulsel yang Mengangkat Sang Merah Putih dari Istana

Nasional Terkini

Aliah Sakira (kiri), siswi SMAN 14 Makassar, asal Sulawesi Selatan bersama Presiden Prabowo Subianto, saat bertugas sebagai pembawa baki pada upacara penurunan bendera Merah Putih HUT ke-80 Kemerdekaan RI di Istana Negara, Jakarta, Minggu (17/8/2025). Foto: Istimewa.

JAKARTA, KABAR SULSEL– Langit Jakarta sore itu tampak teduh ketika Sang Saka Merah Putih perlahan diturunkan di halaman Istana Negara, Minggu, 17 Agustus 2025.

Tepat di momen sakral penutupan upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, seorang gadis belia dari Makassar berdiri tegak di garis depan. Dengan langkah mantap, ia mengangkat baki bendera dengan penuh khidmat: Aliah Sakira, siswi kelas XI SMAN 14 Makassar.

Di usianya yang baru menginjak 16 tahun, Aliah mencatat sejarah. Ia menjadi putri Sulawesi Selatan yang dipercaya sebagai pembawa baki dalam upacara penurunan bendera Merah Putih di Istana Negara. Sebuah kehormatan yang bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya.

“Rasanya sangat bangga bisa sampai tahap ini. Tanggung jawabnya besar sekali, tapi juga jadi pengalaman yang tidak akan terlupakan seumur hidup,” kata Aliah, seperti dikutip dari unggahan IG Mustika Ratu seperti dikutip Kabar Sulsel dari laman RRI.

Jalan Panjang ke Istana

Perjalanan Aliah menuju posisi prestisius ini bukan tanpa ujian. Ia harus melewati seleksi ketat berjenjang: dari sekolah, kota, provinsi, hingga nasional.

Salah satu cobaan terberat datang pada hari pertama seleksi tingkat provinsi. Di saat langkah awal itu, kabar duka datang: kakeknya wafat. Namun Aliah tetap bertahan. Dengan air mata yang tertahan, ia menyelesaikan seleksi. “Itu pukulan terbesar, tapi Aliah sangat tegar,” ujar ibunya, Azmach Febriany, mengenang.

Setelah lolos, Aliah bergabung bersama lima rekan lainnya sebagai utusan Sulawesi Selatan. Mereka dilepas langsung oleh Gubernur Andi Sudirman Sulaiman pada 23 Juni lalu dengan pesan sederhana namun penuh makna: jaga kekompakan dan harumkan nama daerah di tingkat nasional.

Tangis Haru Seorang Ibu

Hampir sebulan penuh, Aliah menjalani pelatihan intensif di Jakarta. Tak ada kesempatan bertemu keluarga, tak ada komunikasi langsung. Maka ketika akhirnya melihat putrinya bertugas di Istana, Azmach tak kuasa menahan air mata.

“Pas ketemu tadi, dia hanya menangis. Setelah lebih dari satu bulan tidak bertemu, rasanya luar biasa. Saat melihat langsung ia membawa baki, itu tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata,” ungkap Azmach dengan suara bergetar.

Bahkan kabar bahwa Aliah menjadi pembawa baki baru ia ketahui pagi hari, sesaat setelah mengambil undangan resmi. “Tidak menyangka sama sekali. Kayak harus memastikan dulu saat sore, pas melihat langsung,” tambahnya.

Teladan dari Sulawesi Selatan

Di mata sang ibu, Aliah bukan hanya anak yang berprestasi, melainkan pribadi yang matang untuk usianya. Sejak kecil, ia terbiasa menjaga adik-adiknya. Karakter penuh tanggung jawab itu yang membuat keluarga yakin ia mampu memikul tugas besar di Istana Negara.

“Kami tidak pernah menekan. Kami hanya minta dia tunjukkan yang terbaik, tetap rendah hati, jangan cepat berbangga hati,” kata Azmach.

Bagi keluarga, momen ini adalah tonggak bersejarah. Tidak hanya mengangkat nama sekolah dan daerah, tapi juga menjadi inspirasi bagi anak-anak Sulawesi Selatan. “Pesan saya untuk generasi muda: jangan pernah menyerah, percaya pada diri sendiri. Aliah adalah bukti bahwa anak-anak Sulsel bisa dilirik di tingkat nasional,” ujarnya.

Setelah Sang Merah Putih Diturunkan

Kini, usai menjalankan tugas beratnya, Aliah kembali sebagai siswi biasa di kelas XI. Ibunya berharap ia tetap rendah hati dan fokus pada sekolah. Ada mimpi besar yang menanti, mungkin ke Akademi Kepolisian, mungkin jalan lain yang akan ia pilih sendiri.

“Apapun ke depan, kami hanya bisa mendukung dan mensupport,” kata Azmach lembut.

Sore itu di Istana Negara, bukan hanya Sang Saka Merah Putih yang berkibar dengan gagah. Ada pula semangat seorang gadis muda dari Makassar yang terangkat tinggi—menjadi simbol harapan, disiplin, dan dedikasi generasi penerus bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *